APAKAH BIOPLASTIK MERUPAKAN SOLUSI?

Kantung plastik masih merupakan favorit untuk pengemas karena harganya yang murah dan mudah ditemukan. Karena harganya murah tersebut maka penggunaannya jadi tidak terkendali. Yang paling populer adalah plastik kresek yang digunakan sekali pakai.

Di Indonesia baru beberapa wilayah Kabupaten / Kota / Provinsi yang telah memiliki aturan pelarangan penggunaan plastik sekali pakai / single use plastic, diantaranya adalah Provinsi Bali, Kota Banjarmasin, Kota Balikpapan, DKI Jakarta dan Kabupaten Blitar.

Bioplastik merujuk pada bahan baku yang terbarukan. Bioplastik dapat diklasifikasikan pada dua kelompok yaitu:

  1. Biobased Bioplastic yang berasal dari jagung, singkong dan berbagai macam serat yang berasal dari nanas, rami, pisang, jeruk dan lainnya
  2. Biodegradable Bioplastic yang berasal dari berbagai polimer yang dapat terurai menjadi karbon dioksida, gas metan dan air.

Biodegradable Bioplastic yang belum terurai tetap berakhir di TPA atau berakhir di laut dan tetap menjadi permasalahan di lingkungan. Biodegradable Bioplastic dapat diolah di fasilitas pengomposan sampah. Akan tetapi di Indonesia belum banyak tersedia fasilitas pengomposan sampah. Sampah organik sebagian besar masih harus dibawa di TPA.

Dari sisi kekuatannya bioplastik tidak sekuat plastik konvensional. Bioplastik mudah rusak dan sobek. Dengan demikian bioplastik juga harus menjadi sampah. 

Sedangkan Biobased Bioplastic juga memiliki tantangan tersendiri karena menggunakan lahan pertanian yang  berarti juga menggunakan air, tenaga kerja dan bahan kimia atau pupuk sampai mendapatkan hasil panennya. Penggunaan sumber daya yang hampir sama dengan sumber makanan menjadikan harga biobased bioplastic tidaklah murah. Diperlukan kemauan dalam pemakaiannya.

Memasukkan bioplastik dalam lingkaran daur ulang memiliki kesulitan tersendiri. Karena daur ulang plastik tidak dapat dilakukan sembarangan. Plastik harus dari satu jenis dan tidak boleh tercampur dengan plastik lainnya. Sebagai contoh botol mineral water terdiri dari plastik jenis PET untuk badan botol, plastik jenis PP untuk tutup botol dan plastik jenis LDPE untuk labelnya. Mono-material menjadi keharusan pada daur ulang plastik. 

Penggunaan bioplastik menggantikan plastik sekali pakai setidaknya sementara ini bisa jadi merupakan salah satu solusi untuk mengurangi keberadaan plastik sekali pakai di lingkungan. Penggabungan dengan pengelolaan sampah yang baik sejak dari hulu: pemilahan, pengumpulan dan pengelolaan sampah dengan keterlibatan masyarakat - termasuk dunia usaha dan komitmen pengurangan / pemakaian kantung plastik dapat mengurangi pemakaian plastik sekali pakai.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penanganan Sampah Masker Bekas dari Pemakaian Mandiri pada Masa Pandemi COVID 19

Jenis Sampah Yang Tidak Boleh Dibuang ke TPA

APAKAH KITA MASIH MEMERLUKAN TPA (TEMPAT PEMROSESAN AKHIR) SAMPAH?

NOT IN MY BACK YARD (NIMBY)

PENGOLAHAN SAMPAH MENJADI REFUSE DERIVED FUEL (RDF)

MANAJEMEN SOSIAL TERHADAP PEMULUNG DI TPA (TEMPAT PEMROSESAN AKHIR) SAMPAH

Pembakaran Sampah Terbuka / Open Burning

LIMBAH YANG TIDAK DIPERBOLEHKAN UNTUK CO-PROCESSING